Selasa, 06 Desember 2016

CERITA REMAJA



Secarik Kertas Usang
            Rintik air hujan mulai berjatuhan. Menghapuskan jejak-jejak manusia di jalanan. Burung yang sedari tadi bernyanyi pun memilih untuk masuk ke dalam sangkar. Berkumpul bersama dengan sang anak dan berbagi kebahagiaan. Aku tersenyum walaupun hati ini merasa iba, burung saja bahagia, mengapa aku tidak ? Aku pun melihat suasana di sekilingku, masih sama seperti hari-hari sebelumnya, tak ada yang berubah. Tetaplah senyap, sepi, dan tak ada seorang pun. Hanya rerumputan hijau dan bunga-bunga yang selalu menemani. Mengharapkan kedatangan seseorang untuk berbagi canda dan tawa denganku di sini.
            Udara dingin semakin terasa menusuk tulang. Matahari pun mulai beristirahat setelah lelah menerangi bumi seharian. Namun, seorang wanita muda terlihat dari kejauhan. Menerobos rintik hujan yang kian deras menyapu jalanan. Siapakah gerangan ? Mengapa ia berlarian tak menentu layaknya dikejar waktu ? Wanita itu semakin dekat. Tampak air matanya keluar meskipun ditengah derasnya hujan. Ia menghampiriku dan terduduk lemas di dekatku, memelukku. Memberikan serangkaian bunga mawar yang begitu indah. Isak tangisnya kian terdengar. Ia pun mengeluarkan sebuah kertas lantas membacanya. Di dekatnya, aku tak tau apa yang harus kulakukan. Aku hanya terdiam.
Dear Khaira,                                                                                                                                      Hampir tiga tahun lamanya kita bersama. Kaulah teman yang selalu menemaniku tatkala sendiri, menghiburku tatkala sedih, dan siap mengulurkan tanganmu tatkala aku terjatuh. Kaulah yang membangkitkan semangat ini untuk menggapai segala mimpi. Namun waktu berkata lain. Semakin lama kau tak pernah menganggapku ada, bahkan disaat aku dihadapanmu. Aku hanya ingin menjadi seorang sahabat yang baik untukmu. Aku sangat ingin membantumu. Mendengarkan segala ceritamu. Tetapi, mungkin kau terlalu nyaman dengannya (Rafi’). Sehingga kau tak lagi membutuhkanku. Juga terlalu meyibukkan diri dalam pekerjaan atau entah itu apa. Aku sangat merasakan perubahan yang terjadi padamu. Kau bukanlah Khaira yang kukenal. Kau lebih mementingkan untuk pergi bersamanya, bercanda dengannya, dan melakukan segala sesuatu bersamanya. Bahkan kau tak pernah lagi menghubungiku sejak dekat dengannya. Khaira, apakah dia yang membuatmu berubah ?
            Tepat tanggal 07 Agustus 2024 kau bertambah usia. Kau tampak bahagia di hari itu. Orang-orang menyalamimu dan memberikan ucapkan selamat. Di sisi lain, hati ini sungguh tersayat. Kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan. Mempunyai banyak kawan untuk berbagi keceriaan. Banyak orang yang peduli terhadapmu, bahkan di hari ulang tahunmu. Tidak seperti diriku, sendiri, hampa, dan tak punya apa-apa. Khaira, aku selalu ingin membuatmu bahagia, bahkan aku rela menghabiskan uangku untuk membuat kejutan itu untukmu. Kau tau ? Aku sangat merindukanmu. Aku sangat kecewa mengapa kau tak ada di hari ulang tahunku waktu itu. Aku hanya menginginkan kedatanganmu Khai. Mungkin itulah ulang tahunku yang terakhir saat aku bersamamu. Tapi apa yang kuperoleh ? Bahkan kau hanya mengucapkan selamat tahun padaku melalui dia. Bodoh. Aku benci itu Khai. Aku juga bosan akan celotehmu yang selalu mengganggap dirimu buruk. Kau yang selalu ingin seperti mereka (teman-teman), kau yang ingin memiliki seperti apa yang mereka miliki, dan kau yang tega berprasangka buruk padaku ketika aku dekat dengan dia padahal tak pernah ada apa-apa. Kamu tau ? Itu pula yang membuatku benci terhadapmu. Kapan kamu akan sadar Khai ? Perasaan ini tidak bisa dibohongi dan aku telah menahan semuanya.
            Dengan tulian ini, ku harap kau akan mengerti mengapa selama ini aku membiarkanmu seorang diri. Tak pernah mengajakmu bicara ataupun tertawa seperti dahulu. Aku hanya ingin kau menganggapku sebagai sahabatmu. Aku iri melihat kehidupanmu dan aku hanya ingin kau mensyukuri itu. Selamat atas kelulusanmu.
 Orang yang sangat merindukanmu.
Freya                                                                                                                                     
“Maafkan aku Frey, aku tak bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Aku terlalu menuruti hawa nafsuku. Sekarang aku sadar, bahwa dirimu jauh lebih penting darinya. Aku ingin kau kembali lagi bersamaku. Aku ingin menuruti janjiku untuk mendaki gunung bersamamu. Bahkan sekarang aku telah bersyukur.” Wanita itu menangis begitu dalam. Menyesal.
            Aku pun tersadar. Wanita itu adalah Khaira, sahabatku dahulu ketika SMA. Aku meninggalkannya dan tak pernah mengabarinya setelah wisuda karena suatu alasan. Aku tak pernah melihat lagi Khaira setelah 3 tahun lamanya. Kini, ia menjengukku dan tulus meminta maaf kepadaku. Aku sangat ingin meredam tangisnya, memeluknya, dan mendekapnya, bahkan ditengah derasnya hujan dan dinginnya malam. Namun, apa yang bisa kulakukan ? Untuk sekadar memegangnya pun aku tak bisa. Wisuda beberapa tahun lalu adalah pertemuan terakhirku dengannya, sebelum aku mendaki dan terperosok ke dalam jurang saat menyelamatkan orang yang sangat mirip dengannya. Nyawaku pun tak terselamatkan. Tak ada yang kutinggalkan untuknya selain kata rindu dan secarik kertas usang. Aku tersenyum. Selamat tinggal untuk selama-lamanya Khaira. Sekarang aku bisa hidup tenang di alam sana.